Fitrah Manusia Menyakini Adanya Allah

images (6)
Fitrah Manusia Menyakini Adanya Allah >> Manusia secara fitrahnya sejak dilahirkan sudah meyakini keberadaan wujud Allah SWT. Sejak zaman dahulu kala   peristiwa perjalanan berpikir manusia dalam mengeksplorasi alam pikirannya dalam pencariannya berkaitan keberadaan Dzat  Allah SWT.

Dari sejak era lalu, manusia telah disibukkan mencari Allah. Ada yg mencari Allah bersama akalnya, ada yg menyebutnya bersama penyebab utamanya, ada pun yg menyebutnya bersama istilah-istilah lain.

images (6)

Diyakini atau tak, sebenarnya keyakinan kita terhadap Zat Allah hanyalah sebatas apa yg sudah dijelaskan oleh Allah lantaran memang lah Allah SWT merupakan zat yg Mahagaib. Allah SWT berfirman : Itulah Allah Tuhan anda, tiada Tuhan (yg berwenang disembah) tidak cuma Ia; Pencipta segala sesuatu, sehingga sembahlah Ia, & Beliauyakni Pemelihara segala sesuatu. Dirinya tak akan di raih oleh penglihatan mata, sedangkan Dirinya mampu menonton segala penglihatan itu & Dia-lah yg Mahahalus lagi Maha Mengetahui.(QS Al-An’aam [6] : 102-103).

Ayat ini dgn tegas menandaskan bahwa Allah SWT itu tak dapat terjangkau oleh penglihatan atau indra kita. Karenanya, telah tentu bahwa akal kita tak bakal dapatmendalami berkaitan Hakikat-Nya. Menjadi, apa yg kita ketahui berkaitan hakikat Allah hanyalah sebatas yg sudah diinformasikan Allah pada kita. Di luar itu seluruh, kitatak sanggup mengetahui. Di sinilah terhadap gilirannya dapat terang perbedaan antara kehidupan dunia & akhirat.

Dalam perjalanan hidupnya, manusia sudah, sedang, & bakal menempuh sekian banyak fase kehidupan yg harus dilalui. Layaknya Firman-Nya : Kenapa anda kafir terhadapAllah, padahal anda tadinya mati, dulu Allah menghidupkan anda, setelah itu anda dimatikan & Dihidupkan-Nya kembali, selanjutnya Kepada-Nya-lah anda dikembalikan” (QS Al-Baqarah [2] : 28).

Disebutkan bahwa perjalanan hidup manusia lewat “empat” fase. Diawali bersama fase kematian (wa kuntum amwaatan), dulu yg ke-2 fase kehidupan (fa ahyaakum), ygke-3 fase kematian lagi (yumiitukum), & yg keempat fase kehidupan lagi (yuhyiikum) sehingga selesailah telah & manusia kembali pada Allah SWT.

Adapun, yg dimaksud kematian yaitu saat jasad tak mempunyai ruh, sedangkan yg diistilahkan dgn hidup merupakan saat ruh mempunyai jasad. Sesudah kita meninggalkan alam dunia ini sehingga kita dapat memasuki alam lain, ialah alam Barzah, dulu sesudah kiamat kita dapat memasuki alam Mashsyar, selanjutnya masuk alam hisab atau Mizan, lantas alam Shirath, barulah setelah itu kita bakal masuk alam akhirat (manusia bakal berada di surga atau neraka).

Mulai Sejak dari alam Barzah hingga alam Shirath inilah kembali manusia belum mempunyai jasad, sehingga dinamakan dgn alam kematian lagi. Sesudah di alam akhirat (surga atau neraka) sbg akhir perjalanan hidup manusia sehingga di ruang ini dinamakan lagi dgn kehidupan, kembali ruh-ruh manusia bakal dikasih jasad. Oleh sebab itu, benarlah bila proses kematian manusia di dunia ini diistilahkan dgn wafat dunia sekaligus meninggalkan jasadnya.

Sedangkan, wujud jasad manusia saat berada di alam akhirat, wallahu a’lam. Yg terang, wujud jasadnya bakal tidak sama dgn jasad yg ada waktu ini ini, karena beliau taklagi dapat merasakan lapar, dahaga (jika manusia masuk surga).

Menjadi, yg dimaksud keimanan kita terhadap Allah SWT, adalah berkenaan hakikat zat Allah, hanyalah sebatas yg kita ketahui Dari-Nya. Allah SWT yg kita yakini yaitu Allah juga sebagai Tuhan Rabbul ‘aalamiin (Rabb alam semesta).  (wallaualam bishowab)

Related posts

Leave a Comment

*