Ketentuan Tentang Pakaian Ihram

unduhan (7)

Ketentuan tentang Pakaian Ihram >> Bagi umat Muslim yang akan melaksanakan Ibadah haji atau umrah, maka  diwajibkan untuk memakai pakaian ihram sebelum melaksanakan rukun haji atau umrah di Tanah Suci. Para Jamaah hendaknya memakai pakaian ihrom dimulai dari miqot atau  tempat yang telah ditentukan. Miqat secara bahasa arinya batas atau garis  antara boleh atau tidak, atau perintah mulai atau berhenti, dalam  memulai melafazkan niat dalam menjalankan ibadah haji atau umrah.

Doa talbiyah yang diucapkan setelah memakai pakaian ihram tersebut adalah merupakan salam bagi Tanah Haram sebagai tempat adanya baitullah atau ka’bah. Untuk ketentuan Miqat ada dua macam yakni  Miqat Zamani yaitu ketentuan yang berhubungan dengan waktu dan miqot makani yakni yang berhubungan dengan tempat batas untuk jemaah memulai niat melaksanakan haji dan umrah dengan mengucapkan doa talbiyah.

Untuk pelaksanaan ibadah haji, maka miqot zamaninya Para Ulama sepakat bahwa yaitu mulai dari tanggal 1 syawal hingga 10 Zulhijah. Sementara untuk ibadah umrah maka dibolehkan sepanjang tahun termasuk pada ketentuan miqot zamani untuk ibadah haji.

Adapun untuk Miqat Makami yaitu miqat berdasarkan tempat, untuk memulai niat melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan memakai pakaian ihram dan membaca doa talbiyah.

Adapun tempat Miqat Makani yakni :

1. Bagi jamaah yang datang ke Baitullah dari arah Madinah, maka melakukan miqot di Bier Ali atau disebut juga Zulhulayfah. Miqot Bir Ali ini  letaknya sekitar 12 km dari Madinah. Bagi jamaah dari kita yang akan melaksanakan ibadah haji atau umrah, namun singgah di Mandinah dulu, maka miqotnya di Bir Ali ini.

2. Adapun jamaah yang datang dari arah Syam (Suria, Mesir, Maroko atau yang searah maka miqotnya di Al-Juhfah, yaitu suatu tempat yang terletak  sekitar 187 km dari Makkah. Setelah hilangnya ciri – ciri Al-juhfah, miqat ini diganti dengan miqat lainnya yakni Rabigh, yang berjarak 204 km dari Makkah.

3. Bagi jamaah yang darang dari Yaman dan Asia maka melakukan miqot di  Yalamlam, yakni sebelah selatan 54 km dari Makkah.

4. Bagi jemaah yang datang dari arah thaif maka melakukan miqot di Qarnul Manazil, yakni sebelah Timur 75 km dari Makkah, tempat ini juga dikenal dengan nama Syail Kabir.

5. Bagi jemaah yang datang dari Iraq dan yang searah maka miqotnya di Zatu Irqin, yang terletak disebelah utara Mekkah.

Ketentuan tantang  Miqat tersebut ditetapkan oleh Bagnda Nabi Muhammad shollalhu alaihi wasallam, sebegaimana yang tercantum dalam banyak hadits. Sedang untuk  miqat Zatu Irqin terdapat dua riwayat, yakni Menurut Bukhari miqat ini ditetapkan oleh Umar bin Khatab, sedangkan menurut riwayat Abu Daud miqat ini ditetapkan oleh Rasulallah. Adapun Bagi penduduk Makkah maka dapat melakukan miqot  mulai ihram adalah dari pintu rumahnya.

Adapun hal-hal yang dilakukan ketika di miqat adalah para calon jamaah haji harus mandi dan bersuci dari kotoran dan  najis bahkan dianjurkan mencukur buku ketiak dan bulu kemaluan serta memotong kuku.

Rasulullah bersabda

  “Di antara yang termasuk sunah adalah mandi bila hendak ihram dan ketika hendak memasuki kota Makkah.” (HR Bazzar, Darruquthi dan Hakim, dari Abdullah bin Umar ra).

).push({});

 

“Rasulullah SAW berangkat dari Madinah setelah Beliau menyisir rambut, memakai minyak wangi, mengenakan pakaian ihram (izar dan rida’). Hal tersebut dilakukan sendiri oleh Nabi dan juga para sahabatnya.” (HR Bukhari dari Ibn Abbas).

Jika semua hal-hal tersebut telah dilakukan dengan baik, maka kemudian hendaknya   memakai pakaian ihram,  yang terdiri dari 2 lembar kain putih yang tidak dijahit, dengan memakainya salah satu lembar kain  dililitkan di pinggang (izar) dan yang satu lembar lainnya digunakan untuk menutupi bahu. Untuk sandal maka hendaknya menggunakan yang tidak menutupi kedua mata kakinya.

unduhan (7)

Untuk kaum wanita, hendaknya memakai  pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan,  longgar tidak membentuk lekukan tubuh.

unduhan (8)

 

Setelah semuanya selesai maka dirikanlah shalat dua rakaat yakni dengan niat melakukan  shalat sunah ihram. Pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, maka hendaklah membaca surat Al Kaafiruun. dan pada rakaat kedua membaca surah Al Ikhlash setelah Al Fatihah.

Setelah semua selesai maka jemaah melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk melakukan rangkaian rukun umroh, dengan mambaca doa talbiyah :

Labaika allahuma labaika

Labaika laa syarukalaka

Inalhamda wanikmata lak wal mulk

laa syarikalak

Adapun hal-hal yang dilarang saat setelah  Ihram adalah :

  1. Merusak tanaman atau pepohonan
  2. Membunuh binatang
  3. Memotong kuku
  4. Melamar, menikah atau  menikahkan (melamar)
  5. berhubungan Seks atau bercumbu
  6. Berbicara kotor, mancaci maki atau bertengkar.

Apabila melanggar salah satu ketentuan diatas maka jamma’ah diwajibkan membayar Dam atau denda.

Related posts

Leave a Comment

*